Kenikmatan Itu Ternyata Di Sini

Dilihat: 341 views

Baca Kisah Nyata : Kenikmatan Itu Ternyata Di Sini

Cerita Bokep : Kenikmatan Itu Ternyata Di Sini

Satu bulan sejak berpisah dengan anak istri kini akhirnya aku mendapatkan libur beberapa hari untuk bertemu keluarga. Karena aku bertugas di kota S yang dekat dengan orang tuaku yang tinggal di kota J maka aku putuskan siang ini berkunjung ke rumah orang tua ku terlebih dahulu selama beberapa hari, baru kemudian menuju rumah mertua ku dimana anak dan istriku sedang berada di sana.

Sebenarnya anak dan istriku tinggal bersamaku di kota S namun karena mertua ku baru saja operasi maka istriku memutuskan untuk menemani orang tuanya di kota T.

Namaku Hendra, memiliki 2 orang putra dan satu orang putri yang masih berumur 6, 4, dan 2 tahun. Aku 3 bersaudara kandung. Yoga adikku tinggal di pusat ibu kota sedangkan Endah adikku tinggal bersama orang tuaku di kota J bersama suaminya.

Rutinitas seks dengan istriku ternyata membuatku kecanduan. Setidaknya 3 hari sekali kami melakukannya. Lewat dari itu maka saya akan uring-uringan. Masturbasi tidak akan menyelesaikan masalah, sehingga tidak aku lakukan.

Satu bulan tidak berhubungan seks membuat otakku semakin ngeres. Nampaknya otakku ini sudah ter-setting untuk tetap melakukan seks secara rutin. Namun jika tidak, aku akan bernafsu pada setiap wanita cantik dan montok yang aku temui.

Seperti wanita yang duduk di sebelahku ini saat di dalam bus menuju rumah orang tua ku. Menggunakan kaos lengan panjang namun agak longgar, celana jeans ketat serta jilbab modis khas wanita zaman sekarang. Namun yang membuatku terkesima adalah ukuran payudaranya, ku taksir sekitar 34C tercetak jelas meskipun dia menggunakan baju longgar.

“Mau ke mana mbak?” Aku memberanikan diri bertanya, siapa tau ada kesempatan berkenalan. Syukur-syukur bisa menjadi teman selingkuh.

“Pulang ke kos di daerah J”

“Mahasiswa atau sudah kerja?”

“Mahasiswa” dia tersenyum ramah membuat ‘adik’ ku semakin tidak karuan.

Sempat terpikir untuk ku perkosa saja gadis ini tapi bagaimana caranya?

“Terminal! Terminal! Habis” kondektur berteriak menandakan bahwa aku harus bersiap turun untuk kemudian mengganti kendaraan.

Sambil berpamit dan tersenyum, wanita tadi turun terlebih dahulu sambil ‘memberikan’ pantatnya yang membulat ke arahku. Aku semakin tidak kuat.

Saat mengganti bus kota aku mampir di warung sebentar untuk melepas dahaga. Sambil menyalakan sebatang rokok. Menghisap, lalu menghembuskannya. Perasaan menjadi lebih nyaman. Namun tetap saja, penisku ini tak mau kompromi.

Tak lagi gadis yang jadi incaran mataku. Ibu-ibu penjual rokok dengan payudara ekstra besar membuat perhatianku tertuju padanya. Mungkin usianya sekitar 50 tahun. ‘Pepaya’ sebesar itu bagaimana cara meremasnya? Apa aku harus mengajak ibu itu untuk bercinta? Sial! Aku tak punya nyali mengungkapkannya! Gila apa? Padahal selama ini aku tak begitu tertarik pada wanita tua seperti itu. Namun payudara sebesar itu ditambah lamanya aku tidak berhubungan badan maupun masturbasi membuat aku ingin bersetubuh dengan orang yang jika situasi normal maka aku tidak akan bernafsu.

Setelah rokok ku matikan, minuman ku bayar aku meneruskan perjalananku menaiki bus dalam kota. Selama dalam bus untungnya sepi dan rata-rata penumpangnya adalah pria. Aman. Penisku bisa lebih tenang sekarang.

“Halo, dimana mas?” Aku mengontak adik iparku, suami Endah.

“Di luar kota, ada proyek yang harus di selesaikan”

Adik iparku ini memang pebisnis, kerjaannya tak tentu. Kadang-kadang keluar kota hingga berminggu-minggu. Aku berpikir, mungkin kesibukan ini yang membuat adik perempuanku belum mendapat momongan. Tapi aku rasa bukan hanya itu. Toh dulu di awal pernikahan istriku ku tinggal berminggu-minggu tetap hamil juga. Bahkan dalam 7 tahun pernikahan aku memiliki 3 anak. Mungkin karena begitu aku melepas kangen, aku dan istri akan melakukan persetubuhan sampai lupa waktu. Apa jangan-jangan suami Endah ini tak terlalu ‘pro’ dalam reproduksi anak?

“Yang di rumah siapa, mas?” Ku panggil ‘mas’ sebagai bentuk kesopanan meskipun aku lebih tua.

“Cuma Endah, ibu sama bapak pulang ke T”

Sial! Tahu begitu aku langsung saja pulang ke mertuaku dan melepas kerinduan dengan istriku.

“Oke, aku telpon Endah saja”

Segera ku tutup telpon, dan mencari kontak Endah di ponsel ku.

“Bisa jemput mas di depan?”

“Lho kok nggak ngasih tau, mas? Tumben”

“Sengaja, karena hanya mampir ke rumahmu untuk ketemu ibu sama bapak, lalu besok lanjut ke T”

“Bapak sama ibu kan ke T”

“Iya, mas-mu sudah cerita tadi”

Tak berapa lama, adikku menjemput dengan motor bebeknya. Penampilan adikku kini berbeda. Lebih alim dengan jilbab lebar dan gamis panjang. Tidak lupa dengan kaus kaki dan daleman celana panjang. Namun ada satu yang berbeda selain ke alimannya: Tubuhnya. Kini tubuhnya jauh lebih seksi. Apa yang terjadi? Padahal baru beberapa bulan lalu aku bertemu dengannya, aku tak pernah peduli dengan seberapa sintal adik kandungku ini. Aku sudah mulai gila. Nafsu ini membuat pikiranku tak lagi normal. Aku jadi jauh lebih sensitif melihat kesintalan setiap wanita, termasuk adikku.

Aku hapal betul dengan adikku ini, wajah kami memang agak mirip, yaitu sama-sama mirip ibu. Wajar, kami kan lahir dari rahim yang sama.

Kibasan angin pada jilbabnya membuat payudaranya semakin terlihat jelas. Ku taksir ukurannya 36C. Cukup besar untuk seorang wanita yang belum mempunyai anak.

“Di depan?” Katanya menawarkan untuk aku yang membawa motornya.

“Nggak usah” aku langsung naik keatas motor tepat di belakangnya.

Sepanjang perjalanan aku semakin uring-uringan. Aku mencoba mencondongkan kepalaku ke depan agar bisa mengendus-ngendus leher adikku dari luar jilbab. Aroma keringat wanita dewasa dapat ku rasakan. Ini kumanfaatkan karena selain dia sedang fokus berkendara, aku sebagai kakak kandung tak akan dicurigai. Ingin sekali ku peluk dan meremas payudaranya. Ah, gila! Adik sendiri ku makan! Baiklah, sampai rumah aku harus masturbasi, jika tidak maka hal yang buruk akan terjadi mengingat malam ini aku hanya akan berdua saja dengan adikku.

Sampai di pagar adikku membuka gembok pagar sambil menunduk. Pantatnya tercetak jelas meskipun tertutup gamis. Aku semakin tak karuan. Saat ini aku melihat adikku adalah wanita paling seksi di dunia, melebihi siapapun termasuk istriku. Lagi-lagi ini karena aku lama tidak berhubungan seks. Sperma ku pasti sudah amat kental.

Masuk rumah, aku duduk di teras, menghabiskan sebatang rokok. Menghirup dalam-dalam, dan menghembuskannya perlahan. Kali ini gambaran adikku tak kunjung bisa menghilang. Adikku sudah amat matang untuk dinikmati. Tapi pada kenyataannya dia adalah adikku. Arrrggghh! Aku memutuskan untuk berjalan-jalan di kebun belakang mengalihkan pikiranku yang semakin menjadi-jadi.

Tak terasa, hari mulai gelap, aku kembali ke rumah yang dimana ‘arus’ setan sangat terasa. Endah tampak sedang menyetrika baju. Kondisi kota J yang panas ditambah panas gosokan membuat hawa semakin panas, terlihat bulir-bulir keringat di dahi Endah mengeluarkan aroma keringat seorang wanita.

“Sudah makan, mas?”

“Belum, gampang nanti, mas mules, nih” kataku bohong lalu ngeloyor ke kamar mandi.

Di kamar mandi aku membuka celanaku dan mengeluarkan penis 23 cm ku yang berurat, hitam dengan diameter 6 cm. Lagi-lagi bukannya aku membayangkan keseksian istriku, aku malah membayangkan kesintalan adik kandungku yang dibalut gamis dan jilbab lebar. Aku mulai meremas penisku sambil membayangkan bagaimana jika aku bercinta dengan adikku. Akal sehat sudah hilang, aku terlalu bernafsu melihat keseksian adikku. Makhluk yang dari kecil bermain bersamaku, kini setelah dewasa, aku ingin bermain lagi, tapi tidak bermain petak umpet atau kucing-kucingan, melainkan bermain seks. Aku semakin gelap mata. Ku hentikan aktifitasku di kamar mandi, ku naikan kembali celanaku lalu keluar dari kamar mandi.

“Kalau belum makan itu ada sayur di meja makan” kata adikku sambil merapihkan posisi baju yang akan di setrika.

“Kamu belum punya momongan juga ya, ndah?” Kataku tak menghiraukan tawarannya sambil melangkah ke belakang adikku.

“Ya namanya juga belum rejeki, mas” jawabnya sambil terus menyetrika. Endah tidak memperdulikan keberadaanku di belakangnya yang sudah sangat dilanda birahi.

“Aku juga masih pengen punya anak lagi” kataku serius

“Memang tiga masih kurang?” Tanyanya sambil tersenyum geli.

“Kurang, makanya ayo kita buatnya sama-sama, ndah”

Belum sempat Endah berpikir apa maksud kalimatku. Aku mempertegasnya dengan berkata.

“Kamu yang ngelahirin anak ku, ndah. Kita bikinnya bareng, malam ini”

Lalu aku mendekat dan memeluk tubuhnya sambil meremas kedua payudaranya dari luar jilbab dan gamisnya sehingga setrika yang di pegangnya terjatuh ke lantai dan terlepas jauh dari coloka listrik di dekat kami berdiri. Beruntung tidak mengenai kami berdua.

“Mas?!! Jangan!!” Endah meronta.

Tubuhku yang berotot tak begitu kesulitan menahan rontaannya. Aku terus meremas dadanya yang tidak bisa tertangkup semua oleh tanganku. Ternyata tetek Endah lebih besar dari yang aku perkirakan. Kenapa tidak dari dulu saja ku perkosa makhluk ini?
“MAS??!! JANGAN MACAM-MACAM!!” Katanya berteriak yang membuat aku kaget. Segera ku tutup mulutnya dengan tanganku dan tangan kiriku meremas kedua payudaranya secara bergantian. Dari payudara, tanganku menyambar vaginanya dengan cara menggosok-gosokannya dari luar gamisnya.

Endah menggelinjang, aku semakin kegirangan. Rontaannya tak berarti bagiku.

“Ndah, suamimu bego ya! Tubuh semontok ini masa tidak bisa dibuat hamil?!”

“Hhhmmmfff.. Hhmmmmfffhh..” Katanya tidak jelas.

“Gila ini susu, apa tetek? Gede amat?!” Kataku kembali meremas kedua payudaranya bergantian.

15 menit aku meremas payudara dan menggosok vaginanya dari luar gamis akhirnya membuat Endah kelelahan, rontaannya tak sekuat ketika diawal aku menerkamnya.

“Kalau kamu bisa diam dan nggak melawan, aku lepasin tanganku!” Aku menawarkannya. Dia diam saja. Aku lanjut menggosok vaginanya.

“Denger! Kalau kamu nggak teriak, aku lepasin” kataku menawarkan lagi.

Akhirnya Endah mengangguk. Aku melepasnya. Tangan kananku kini leluasa meremas payudara kanannya dari belakang. Endah hanya menangis sesenggukan dan sesekali menggelinjang ketika ku gosok vaginanya.

“Aaahhh mmmhhh ssshhh” Endah mulai mendesah mengikuti permainanku.

Kondisi Endah yang lemas karena permainan tanganku, ku manfaatkan dengan memposisikan dia menungging sambil berpegang pada meja gosokan. Ku singkap gamisnya, ku perosotkan celana panjang berikut celana dalamnya. Maka terpampanglah vagina adikku yang tentu saja sudah tidak perawan lagi oleh suaminya. Memang bentuknya tidak seperti vagina perawan tapi mengingat vagina basah mengkilat ini adalah milik adik kandungku membuatku tak tahan. Aku berjongkok dan mulai mengendus-endus serta menjilat lubang vaginanya yang sedikit menganga. Tidak lupa aku juga menjilat lubang anus yang tersaji di depan hidungku. Aku tak peduli aromanya, begitu nikmat dan menggairahkan. Ku jilat klitorisnya, Endah semakin menggelinjang.

“Aaaawwwhh sssshhh” Endah menahan rasa nikmatnya.

“Lepasin aja, ndah. Jangan di tahan. Mas mau ngerasain cairanmu” kataku di sela-sela jilatanku.

10 menit ku jilat vagina yang sel telurnya didalam mengandung DNA yang tentu saja sama dengan DNA yang terkandung dalam spermaku mulai berkedut. Aku tidak tinggal diam, semakin intens ku sedot vagina dan klitorisnya. Tak lupa tangan kanan ku menjamah payudaranya yang menggantung. Ku tarik-tarik, ku remas dan ku pelintir payudara dan putingnya. Endah semakin tak tahan.

“Oooohhh maaassshh.. Oooooggghh..” Teriak Endah melengking dan tubuhnya mengejang. Endah akhirnya mengeluarkan cairan putih kental dari vaginanya yang langsung ku jilat dan tak ku biarkan tersisa mengingat cairan ini adalah darah dagingku sendiri.

Setelah cairan tersebut habis ku jilati. Aku pun berdiri. Memanfaatkan Endah yang ngos-ngosan, aku membuka resleting celana Jeansku lalu menurunkan Jeans berikut celana dalamku. Lalu aku menempelkan penisku ke bibir vagina adik kandungku yang semakin menganga setelah orgasme tadi.

Ku gosok-gosok sebentar untuk meratakan cairan di penisku. Lalu mulai ku dorong.

“Maaassshhh jangaaann..” Mohon Endah. Ternyata masih ada keraguan di hatinya.

Aku tidak peduli, aku terus menusuk. Dan.. Bleeesss.. Meskipun masuk semua tanpa hambatan di karenakan Endah sudah bersuami tapi aku masih merasakan betapa sempitnya vagina Endah.

Penisku yang terlalu besar atau vagina Endah yang memang sempit? Ohh.. Mungkin vagina dan penis kakak-adik yang saling melengkapi membuat kami merasa kenikmatan yang teramat sangat.

Biasanya ketika sedang bersenggama dengan istriku, maka istriku akan kesakitan terlebih dahulu meskipun vaginanya sudah sangat basah. Tapi kali ini Endah berbeda, dia nampak merasa ngilu sebentar karena memang ukuran penisku tapi tak lama langsung merasa nikmat.

Akhirnya hasratku terpenuhi. Endah dan aku sedang melakukan prosesi tabu pembuatan anak incest. Aku tak peduli apa nanti bentuk anaknya dan bagaimana status sosialnya. Apakah dia anakku atau ponakanku?

Pikiran seperti itu semakin membuatku birahi. Pompaanku semakin ku percepat. Endah terlihat semakin menikmati.

“Aaaahhh aaaooohhh aaahhh aaahh” Desah Endah tak kuat menahan nikmat.

“Hhhooohhh haaahhh haaahhh” Balasku mendesah.

“Haaahh Haooohh haahh aaahhh ssshh aaahhh” Endah menyaut kembali.

“Ndaaahh, tetekmuuuhh khhhuu rhemeess yaaahhh..”

“He’ehhhh heehhh he’ehhh haahh haaahh” Desah Endah menyetujui.

Bayangkan jika situasinya tidak seperti ini, Endah pasti jijik dan tidak mau aku remas payudaranya. Apa lagi kenyataannya Endah adalah adik kandungku yang alim dan sudah bersuami. Tapi ini lain. Endah dan aku sedang merasa kenikmatan membuat anak dengan prosesi tabu ini.

Kami tidak peduli apakah ada orang yang mendengar suara desahan kami. Endah dan aku saling berteriak kenikmatan.

Aku memompa tubuh Endah dalam posisi Doggy-Style sambil meremas kedua payudaranya dengan beringas. Kami berdua semakin menyatu tak terpisahkan.

“Arrrgghhh hooOOOH HAAAHHH” Desah keras Endah.

“ANJING!! HaaaRRGHH enak banget memekmu!!” Balasku

Lama kami beradegan seperti ini hingga 20 menit kemudian Endah tiba-tiba menjerit. Dia mendorong pantatnya ke belakang agar penisku semakin terbenam dalam rahimnya. Begitu juga dengan penisku yang ku arahkan berlawanan dengan dorongan pantat Endah. Vagina Endah juga semakin mencengkram penisku sehingga penisku yang menyimpan sperma kental ikut berkedut.

Posisi mengunci seperti ini membuat persetubuhan ini menjadi sempurna. Vagina Endah menyemburkan cairan cintanya, dan aku menyemburkan sperma kental yang telah lama kusimpan.

“AAAARRRGGGHHH!!” Teriak Endah sangat keras

“HHAAARRRGGHHH!!” Aku pun membalas.

Kelamin kita saling menyemburkan cairan yang tentunya memiliki kandungan yang sama karena kita adik-kakak kandung.

1 menit kita dalam klimaks yang tak terkendali sehingga hanya tinggal nafas kami yang ngos-ngosan.

Setelah situasi terkendali, aku mencabut penisku yang mulai lunglai meskipun masih agak keras. Dan, begitu ku cabut, ada cairan putih kental campuran antara cairan cinta Endah dan spermaku menetes dari vagina Endah yang merekah merah. Meskipun tidak banyak. Itu artinya banyak sperma ku yang masuk dan tersimpan dalam rahim Endah.

Aku terduduk di lantai begitu juga Endah. Lalu terdengar isak tangis kecil keluar dari bibir Endah. Aku merasa bersalah, begitu pula dengan Endah. Kami telah melakukan suatu hal yang sangat sangat sangat salah.

Aku pun pergi ke kamar dan langsung tertidur di kamar. Aku tidak memperdulikan rasa laparku meskipun aku belum makan. Endah sendiri tak ku tahu sampai kapan menangis. Aku memang kakak yang jahat. Tapi jauh di lubuk hatiku, aku puas. Sangat puas.

Esok paginya kulihat Endah sudah bangun dan sedang mencuci baju. Dia tampak biasa saja, namun tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Endah.

Aku mempersiapkan diri dan langsung pamit.

“Mas jalan dulu” kataku sambil menutup pintu tanpa menunggu jawaban.

***

Tiga bulan setelah ini aku mendapat pesan dari Endah bahwa dia sudah mengandung. Aku mengucapkan selamat. Ah, ternyata Endah masih mau berkomunikasi denganku. Aku merasa lega. Tapi aku sangat terkejut ketika dia mengatakan bahwa suaminya baru menggaulinya 1 bulan yang lalu sedangkan kandungannya sudah 3 bulan. Ah, semoga tidak ada yang curiga.

Ternyata persetubuhan kami walau hanya sekali tapi berhasil menghasilkan keturunan incest. Aku was-was sekaligus senang.

Beberapa bulan aku berusaha menghindari pertemuan dengan Endah, meskipun Endah sudah mau berkomunikasi denganku. Orang tua ku pun bingung kenapa aku jarang main ke rumah mereka. Tapi alasan kesibukanku membuat mereka memaklumi.

Sampai kelahiran anak Endah yang kemungkinan besar anakku baru-lah aku bertemu Endah. Anak Endah laki-laki dan diberi nama Farhan. Aku melihat Farhan sangat mirip dengan ibuku, tentu saja, karena baik aku dan Endah cendrung mirip dengan ibu kami berdua. Namun sayangnya, beberapa kali Farhan sakit-sakitan tanpa jelas penyebabnya. Apakah ini penyebab anak hasil incest yang cendrung menghasilkan anak cacat? Aku tak tahu. Yang jelas ku lihat Endah semakin montok dan seksi saja. Aku melihat Endah dengan sudut pandang lain. Endah kini tampak cantik di mataku, meskipun tidak ada perubahan di wajah Endah. Kami tidak lagi sekadar kakak dan adik kandung.

Oohh… Apakah kami harus kembali memberi Farhan adik?

T A M A T

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *